Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 18 Juli 2011

Budidaya Udang Vannamei

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Udang vannamei merupakan udang asli dari Pantai Pasifik Barat Amerika Latin, diperkenalkan di Tahiti pada awal tahun 1970 untuk penelitian potensi wilayah. Kemudian pengembangan budidaya yang intensif di Hawaii, utara - barat pantai Pasifik, pantai timur Atlantik (South Carolina), Teluk Meksiko (Texas), Belize, Nikaragua, Kolombia, Venezuela, dan Brazil di akhir tahun 1970–an dan sebelum 1980. Udang vannamei diperkenalkan di Asia untuk tujuan penelitian pada tahun 1978 - 1979 dan untuk kegiatan komersial pada tahun 1990–an. Perkenalan negara - negara Asia adalah sebagai berikut : Daratan China, 1988; Taiwan, 1995; Vietnam, 2000; Indonesia, 2001, Thailand, 1998; Malaysia, 2001; India, 2001, Filipina, 1997; Kepulauan Pasifik, 1972 (Briggs et al. 2004).
Di Indonesia setidaknya terdapat sekitar 419.282 Ha tambak air payau dan sekitar 913.000 Ha lahan lainya yang potensial untuk budidaya. Tentunya hal ini dapat menjadi faktor pendukung dan pemicu perkembangan industri budidaya udang yang selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan baik di Indonesia, Asia bahkan masyarakat dunia secara umum (Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC), 2005).

2.1. Biologi Udang Vannamei

2.1.1. Klasifikasi Udang Vannamei
Menurut Boone (1931), klasifikasi udang vannamei adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Malacostraca
Order : Decapoda
Superfamily : Penaeoidea
Family : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Species : Litopenaeus vannamei

2.1.2. Mofologi Udang Vannamei
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), menyatakan bahwa tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous) yaitu exopodite dan endopodite. Vannamei memiliki tubuh berbuku-buku dan aktifitas berganti kulit luar atau exoskeleton secara periodik (moulting). Bagian udang vannamei sudah mengalami modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut :
Makan, beregerak, dan membenamkan diri dalam lumpur (burrowing).
Menopang insang karena struktur insang mirip bulu unggas.
Organ sensor, seperti pada antena dan antenula.
Kepala (Chepalotorax) udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang maxiliped dan lima pasang kaki jalan (periopoda). Maxiliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Bentuk periopoda beruas – ruas yang berujung di bagian Dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki 1, 2, dan 3) dan tanpa capit kaki 4 dan 5.
Perut (abdomen) terdiri dari enam ruas. Pada bagian abdomen terdapat lima pasang kaki renang dan sepasang uropoda (mirip ekor) yang berbentuk kipas bersama-sama telson.
Udang vannamei mempunyai carapace yang transparan, sehingga warna dari perkembangan ovarium jelas terlihat. Pada udang betina, gonad pada awal perkembangannya berwarna keputih-putihan, berubah menjadi coklat keemasan atau hijau kecoklatan pada saat hari pemijahan. Setelah perkawinan, induk betina akan mengeluarkan telur yang disebut dengan pemijahan (spawning). Perkawinan lebih bersifat open thelycum, yaitu setelah gonad mengalami matang telur (DKP Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, 2009).

2.1.3. Habitat dan Tingkah Laku
Menurut Briggs dkk (2006), menyatakan bahwa udang vannamei hidup di habitat laut tropis dimana suhu air biasanya lebih dari 20°C sepanjang tahun. Udang vannamei dewasa dan bertelur di laut terbuka, sedangkan pada stadia postlarva udang vannamei akan bermigrasi ke pantai sampai pada stadia juvenil.
Udang vannamei merupakan bagian dari organisme laut. Beberapa udang laut menghabiskan siklus hidupnya di muara air payau. Perkembangan Siklus hidup udang vannamei adalah dari pembuahan telur berkembang menjadi naupli, mysis, post larva, juvenil, dan terakhir berkembang menjadi udang dewasa. Udang dewasa memijah secara seksual di air laut dalam. Udang vannamei melakukan pembuahan dengan cara memasukan sperma lebih awal ke dalam thelycum udang betina selama memijah sampai udang jantan melakukan moulting. Masuk ke stadia larva, dari stadia naupli sampai pada stadia juvenil berpindah ke perairan yang lebih dangkal dimana terdapat banyak vegetasi yang dapat berfungsi sebagai tempat pemeliharaan. Setelah mencapai remaja, mereka kembali ke laut lepas menjadi dewasa dan siklus hidup berlanjut kembali (Clay dan McNavin, 2002).

2.2. Persyaratan Lokasi
Menurut BPTP Sulawesi Selatan (2008), berdasarkan kebiasaan hidup, tingkah laku dan sifat udang itu sendiri, maka dalam memilih lokasi tambak baik dalam rangka membuat tambak baru maupun dalam perbaikan tambak yang sudah ada, sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut :
• Memiliki sumber air yang cukup, baik air laut maupun air tawar dan tersedia sepanjang tahun atau setidaknya 10 bulan dalam setahun, tetapi bukan daerah banjir.
• Memiliki saluran air yang lancar, baik untuk pengisian waktu pasang maupun membuang air waktu surut dan sumber air serta lingkungan bebas dari pencemaran.
• Kadar garam air berkisar 10 - 25 ppm dan derajat keasaman (pH) berkisar 7 - 8,5.
• Tanah dasar tambak terdiri dari lumpur berpasir dengan ketentuan kandungan pasirnya tidak lebih dari 20%.

2.2.1. Tata Letak
Menurut Mustafa (2008), menyatakan bahwa tata letak suatu tambak harus memenuhi tujuan antara lain : menjamin mobilitas operasional sehari-hari, menjamin keamanan kelancaran pasok air dan pembuangannya, dapat menekan biaya konstruksi tanpa mengurangi fungsi teknis dari unit tambak yang di bangun, dan mempertahankan kelestarian lingkungan.
Daerah penyangga perlu disediakan dalam mendesain hamparan pertambakan. Daerah penyangga berupa lahan yang berbatasan dengan laut atau sungai yang tidak digunakan untuk pemeliharaan udang, melainkan untuk tempat tumbuhnya mangrove yang merupakan tanaman asli daerah tersebut. Dengan adanya daerah perlindungan ini, maka angin sehingga kerusakan pematang karena erosi yang ditimbulkan oleh angin dapat berkuran. Hal ini juga berarti mengurangi biaya pemeliharaan pematang. Disamping itu, secara tidak langsung perairan disekitar mangrove akan subur dan kualitas perairan lebih dijamin kualitasnya, karena adanya kemampuan dari vegetasi mangrove untuk mengamulasi dari bahan pencemaran.

2.2.2. Desain Petakan
Menurut Mustafa (2008), menyatakan bahwa desain petakan tambak membutuhkan pertimbangan yang seksama agar tambak dapat berfungsi secara efisien dan layak secara ekonomis. Tujuan daripada desain tambak yang baik adalah mengefektifkan pengelolaan limbah, disamping memudahkan pengelolaan air dan pemanenan udang. Secara umum, desain petakan tambak merupakan perencanaan bentuk tambak yang meliputi : ukuran panjang dan lebar petakan, kedalaman, ukuran pematang, ukuran saluran keliling serta ukuran dan letak pintu air.
Untuk petakan berbentuk empat persegi panjang, sisi terpanjangnya sebaiknya kurang dari 150 m, agar pemasukan air dari satu sisi lain masih dapat menimbulkan arus yang cukup kuat. Selain itu, sisi terpanjang petakan hendaknya tegak lurus terhadap arah angin. Hal ini dimaksudkan agar angin yang bertiup tersebut tidak menimbulkan gelombang air yang terlalu kuat. Bila sisi terpanjang petakan menjadi cukup kuat yang dapat merusak pematang.
Luas petakan tambak yang ideal tergantung tingkat teknologi yang diterapkan. Semakin kecil ukuran tambak semakin mudah dalam pengelolaannya, tetapi akan lebih mahal dalam konstruksi maupun operasional.

2.2.3. Desain Pematang
Dalam mendesain pematang yang pertama kali diperhatikan adalah pematang harus mampu menampung ketinggian air maksimum yang diperlukan. Jadi tinggi pematang harus didasarkan pada pasang tertinggi air laut yang pernah ada. Selain itu kondisi pematang tidak boleh bocor. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pematang harus mampu melindungi areal yang dibatasinya dari tekanan air dalam segala kodisi. Berarti, pematang harus cukup kuat, tidak mudah jebol karena tekanan air dan tidak mudah tererosi. Perlu dipertimbangkan, kemungkinan digunakan sebagai jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Namun perlu diingat bahwa, infrastruktur dan jalan masuk kearah tambak tidak boleh apabila dapat mengubah aliran air alami yang dapat menyebabkan terkurungnya air sehingga dapat mengakibatkan banjir. Bagian-bagian pematang adalah puncak pematang, dasar pematang, berm dinding atau lereng pematang, inti pematang, garis tengah atau sumbu pematang (Mustafa. 2008).

2.2.4. Desain Saluran
Menurut Mustafa (2008), bahwa saluran tambak pada umumnya termasuk tipe terbuka dengan penampang berbentuk trapesium terbalik dan airnya mengalir secara gravitasi. Namun ada kalanya berupa saluran tipe tertutup seperti yang banyak dipakai pada tambak intensif. Tipe tertutup biasanya dipakai untuk menyalurkan air yang dipompa dari laut. Karena menggunakan pompa, maka debit air yang diperoleh tergantung pada kapasitas pompa yang digunakan. Pada umumnya cara seperti ini diterapkan bila sumber air yang ada disekitar tambak sangat kotor, sehingga terpaksa harus mengambil air dari tengah laut yang kondisi airnya masih bersih.
Desain saluran meliputi penentuan kemiringan saluran, lebar dasar saluraan, dan kemiringan dinding saluran. Disamping itu perlu pula dipertimbangkan kegunaan lain, misalnya untuk penampungan sementara udang yang akan ditebar ke petakan lain. Bila diperuntukan tujuan ini, maka dasar saluran perlu diperdalam sekitar 0,3 m lebih rendah dari dasar tambak.

2.2.5. Konstruksi Tambak
Konstruksi tambak harus didahului dengan kegiatan penyusunan rencana kerja yang matang agar dicapai efisiensi dan penggunaan dana serta daya sehingga memperoleh hasil yang maksimum. Didalam rencana kerja harus tahapan pekerjaan yang akan dilaksanakan, pengaturan pekerjaan, kebutuhan tenaga kerja, waktu yang diperlukan, jenis serta jumlah alat yang diperlukan.
Menurut Galeriukm (2009), bahwa Konstruksi tambak udang diupayakan mampu menahan air, mampu membuang air limbah, mampu memelihara kualitas air, dan tambak dapat dikeringkan dengan mudah dan sempurna. Tanah dasar tambak harus dalam kondisi yang sesuai untuk kehidupan dan pertumbuhan udang. Hal ini karena sebagian besar waktu hidup dan mencari makan udang berada di tanah dasar tambak.



2.3. Persiapan lahan
Menurut Kongkeo (1997), menyatakan bahwa persiapan lahan adalah operasi paling penting dalam budidaya udang intensif. Persiapan ini dapat menghilangkan gas beracun, seperti amonia, hidrogen, sulfide, dan metana, serta pathogen didasar yang telah terakumulasi dari budidaya sebelumnya. Kegiatan yang termasuk persiapan lahan adalah pengeringan, pemupukan, pengapuran, pengendalian hama, pemasangan kincir, pengisian air. 

2.3.1. Pengeringan
Semua tingkat teknologi budidaya tambak menghendaki pengeringan dasar yang sempurna, yang dapat dilakukan pada periode musim kemarau. Pengeringan ini dimaksudkan untuk mengurangi senyawa – senyawa asam sulfide dan senyawa beracun yang terjadi selama tambak terendam air, memungkinkan terjadinya pertukaran udara dalam tambak sehingga proses mineralisasi bahan organik dapat berlangsung, serta untuk membasmi hama penyakit dan benih – benih ikan liar yang bersifat predator ataupun competitor (BPTP Sulawesi Selatan, 2008).

2.3.2. Pengendalian Hama dan Penyakit
Faktor lain yang menentukan keberhasilan budidaya udang di tambak adalah keberhasilan dalam usaha pengendalian/pemberantasan hama didalam tambak.
Dalam pemberantasan hama, pestisida anorganik yang digunakan adalah saponin dengan dosis 20 mg/L. keuntungan jenis racun ini karena dapat menjadi pupuk setelah daya racunnya hilang (ampasnya). Oleh karena itu, pengendalian hama ditambak sebaiknya dilakukan dengan mempergunakan cara mekanis dan pestisida organik (pestisida nabati). Apabila dengan mempergunakan cara tersebut belum memberikan hasil yang diharapkan, maka sebagai langkah terakhir barulah mempergunakan pestisida anorganik yang memiliki residu sangat rendah (Ratnawati, 2008).
Saponin adalah glikosida, yaitu metabolit sekunder yang banyak terdapat dialam, terdiri dari gugus gula yang berikatan dengan aglikon atau sapogenin.Senyawa ini bersifat racun bagi binatang berdarah dingin. Oleh karena itu dapat digunakan untuk pembasmi hama tertentu bagi budidaya udang (Prihatman, 2001).
FAO (2006), menyatakan bahwa ketersediaan induk SPF dan SPR menyediakan cara untuk menghindari penyakit, meskipun prosedur biosekuriti juga penting, termasuk :
• Pengeringan dari dasar kolam antara siklus.
• Mengurangi pertukaran air dan penyaringan halus dari air yang masuk.
• Penggunaan jaring burung.
• Membuat pagar di sekitar kolam.
Setelah virus memasuki kolam, tidak ada bahan kimia atau obat yang tersedia untuk mengobati infeksi, tetapi pengelolaan air, pengelolaan pakan yang baik dan pengelolaan kesehatan yang baik dapat mengurangi infeksi virus tersebut. Selain itu pencegahan dapat dilakukan dengan Persiapan air yang baik, air yang masuk keseluruh sistem akan diberi kaporit 30 ppm dan diendapkan selama 3 hari untuk menghilangkan carrier dan partikel virus yang terbawa air (Adiwidjaya dan Erik, 2011).

2.3.3. Pengapuran
Menurut William (2009), menyatakan bahwa keasaman tanah kolam dapat dinetralkan dan produktivitas kolam dapat diperbaiki dengan pengapuran. Pengapuran mengacu pada aplikasi senyawa penetral asam berbagai kalsium dan magnesium. Pengapuran kolam memiliki tiga manfaat penting, Pengapuran dapat meningkatkan efek pemupukan, Pengapuran membantu mencegah perubahan pH, Pengapuran juga menambahkan kalsium dan magnesium, yang penting dalam fisiologi hewan.
a. Pengaruh pengapuran terhadap pemupukan
Pupuk yang mengandung nitrogen, fosfor dan kalium (terutama fosfor) merangsang pertumbuhan tanaman mikroskopis (fitoplankton) dan hewan (zooplankton), yang pada gilirannya, menjadi makanan bagi hewan pada rantai makanan. Dalam kolam yang digunakan untuk produksi komersial ikan remaja, plankton adalah sumber makanan utama. fitoplankton juga menyerap nitrogen limbah beracun dan meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut siang hari, sehingga mereka yang penting terhadap kualitas air. Pengapuran untuk meningkatkan respon terhadap pemupukan. Pada tambak yang dibangun pada dasar yang asam dan diisi dengan air segar yang memiliki kandungan mineral rendah, sehingga diperlukan fosfor tambahan untuk digunakan pupuk menjadi terikat erat di sedimen tambak dimana tambak tersebut tidak tersedia cukup fosfor untuk mendukung pertumbuhan fitoplankton. pengapuran yang tepat dapat meningkatkan ketersediaan fosfor dan meningkatkan produktivitas tambak.
b. Fluktuasi pH adalah hasil dari interaksi fotosintesis dan respirasi. Malam hari respirasi meningkatkan konsentrasi CO2, menciptakan asam karbonat dan menyebabkan pH turun. Pada siang hari fitoplankton menyerap CO2 untuk fotosintesis, menyebabkan pH naik. Perubahan pH sehari-hari dapat mengakibatkan stres pada hewan air. Sehingga pengapuran digunakan untuk meningkatkan alkalinitas total, dan diperlukan untuk kestabilan penyangga perairan dan mengurangi fluktuasi pada pH harian.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (2010), menyatakan bahwa jika pH tanah kurang dari 6,5, maka perlu dilakukan pengapuran dengan dosis seperti pada Tabel 1, kemudian dilanjutkan dengan pemasukan air.
Tabel 1. Dosis kapur berdasarkan pH tanah
pH Tanah CaCO3 (Kg/Ha) Ca(OH)2 (Kg/Ha)
> 6 < 100 < 500 6 – 5 < 2000 < 1000 > 5 < 3000 < 1500 2.3.4. Pemasangan Kincir Menurut Tapparhude, dkk. (2007), menyatakan bahwa Sirkulasi air tambak dengan aerator adalah memiliki keuntungan tambahan aerasi karena beberapa alasan: (1) air menggerakan oksigen di kolam dan udang dapat lebih mudah menemukan zona dengan konsentrasi DO yang memadai, (2) tanpa gerakan konstan air baik oksigen dari aerator, aerasi akan meningkatkan konsentrasi DO di sekitar dari aerator dan mengurangi efisiensi transfer oksigen, dan (3) pencampuran air tambak dengan aerator mengurangi stratifikasi vertikal temperatur dan kimia. Kincir aerator lebih efisien dalam transfer oksigen dan sirkulasi air dari aerator jenis lainnya. Kincir diterapkan untuk tujuan, yang tidak hanya meningkatkan tingkat oksigen di tambak, tetapi juga menjaga wilayah makan yang bersih dan mengumpulkan sedimen ke tengah kolam. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah (2009), menyatakan bahwa penggunaan kincir dimaksudkan untuk menambah suplai oksigen kedalam media budidaya melalui pergerakan air yang ditimbulkan oleh kincir tersebut. Tujuan lain peggunaan kincir adalah mengumpulkan bahan-bahan organik seperti kotoran udang, sisa pakan serta bahan endapan lain pada sudut yang dikehendaki agar dapat dikeluarkan dengan mudah. 2.3.5. Pengisian Air Air merupakan media hidup udang, yang didalamnya terdapat kandungan oksigen terlarut untuk pernafasannya, makanan dan sumber beberapa mineral bagi udang. Oleh karena itu air yang akan digunakan untuk budidaya udang harus disiapkan agar memenuhi standar kebutuhan tersebut (Adiwidjaya dan Erik, 2007). Menurut BPTP Sulawesi Selatan (2008), menyatakan bahwa air dimasukkan kedalam petakan tandon yang telah diendapkan selama ± 4 hari. Persiapan tandon dilakukan sama dengan persiapan petak pembesaran, hanya tidak dilakukan pemupukan. Apabila tambak tidak memakai petakan tandon, maka tambak sebaiknya diberi kaporit 5 ppm sebelum ditebari udang dan tidak boleh ganti air sampai 1,5 bulan. Air yang telah ditampung diberi kapur secara rutin dan dialirkan ke petak pembesaran dengan pergantian air dipetak pembesaran sebanyak 20 - 30 % / 3 hari. Menurut Rostamian (2007), bahwa langkah yang diambil untuk mengurangi risiko masuknya hama dalam pengisian dan persiapan air pada tambak adalah : • Filtrasi Air menggunakan strimin 60 mesh mengurangi risiko wabah penyakit ke tambak. • Desinfeksi air juga dapat mengurangi risiko wabah penyakit di tempat budidaya yang menggunakan padat penebaran tinggi. • Pemupukan mengurangi risiko wabah penyakit pada budidaya dengan padat tebar rendah. 2.4. Penebaran Benur Menurut Adiwidjaya dan Erik (2009), menyatakan bahwa untuk mendapatkan benur yang berkualitas (sesuai SNI), maka pemilihan dan pemilahan benur harus dilaksanakan dengan hati-hati, melalui prosedur yang disyaratkan. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan benih yang bebas dari berbagai kemungkinan infeksi penyakit yang disebabkan oleh virus (SEMBV) maupun bakteri vibrio dan protozoa, yang secara keseluruhan akan menyebabkan gangguan terhadap proses budidaya pada umumnya dan pertumbuhan udang khususnya. Sebelum benih ditebar dilakukan aklimatisasi terhadap suhu dan kadar garam air pengangkutan dengan air tambak. Cara yang dilakukan adalah membuka kantong dan menambahkan air tambak kedalam kantong sedikit demi sedikit sampai benih udang aktif berenang keluar sediri dari dalam kantong tersebut. Aklimatisasi dilakukan dengan cara memasukan benih pada wadah waskom atau ember ditambahkan air tambak sedikit-demi sedkit, aklimatisasi dianggap cukup bila benih sudah aktif berenang. Arti dari aklimatisasi sendiri adalah proses organisme individu menyesuaikan diri dengan perubahan bertahap di lingkungannya, (seperti perubahan suhu, kelembaban, penyinaran, atau pH) yang memungkinkan untuk mempertahankan performa di berbagai kondisi lingkungan (en.wikipedia.org) Pada stadia PL atau benih, udang sangat peka. Walaupun dengan persiapan kolam yang sangat baik, benih udang dapat mati saat ditebar jika tidak sehat, bila waktu penebaran tidak ideal, atau bila kualitas air saat pengangkutan sangat berbeda dengan kualitas air kolam. Padat tebar untuk tambak intensif seharusnya 60 - 300 ekor/m2. Baliao dan Siri (2002), menyatakan bahwa waktu membeli benih, pastikan bahwa benih tersebut berkualitas prima dengan sifat - sifat karakteristik sebagai berikut : a. Berenang melawan arus bila air di baskom diaduk dan bereaksi pada penepukan air dan bayangan yang lewat b. Berenang secara horisontal dan tidak vertikal seperti seakan-akan kehabisan nafas c. Bertubuh lurus d. Berukuran seragam e. Berukuran panjang paling sedikit 12 mm pada stadia PL18 f. Mempunyai otot-otot perut yang jernih g. Memiliki lambung penuh h. Memiliki rasio 1 : 4 antara lambung dan otot Menurut BPTP Sulawesi Selatan (2008), bahwa Pl 11 - 17, tokolan udang lebih toleran terhadap fluktuasi salinitas yang lebar sehingga membutuhkan waktu yang singkat dalam proses aklimatisasi. Penebaran sebaiknya dilakukan pada waktu suhu udara dingin yaitu pada jam 06.00 – 08.00 pagi atau jam 17.00 sore - 22.00 malam. Hindari penebaran benur yang terkumpul disatu tempat. Benur ditebar setelah air tidak berbau kaporit dan air sudah berwarna coklat muda. 2.5. Pengelolaan Pakan Baliao dan Siri (2002), bahwa biaya pakan merupakan 40 - 50% dari total biaya produksi operasi budidaya udang intensif, disarankan menggunakan pakan berkualitas baik (dengan kandungan protein yang stabil). Guna memperoleh pengelolaan pakan dan pemberian pakan yang efisien, jumlah benih udang di kolam, derajat pertumbuhan dan rasio konversi pakan (FCR) harus dimonitor setiap hari. Menurut Baliao dan Siri (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian pakan : 1. Suhu Pertahankan agar suhu air antara 26 - 33 oC. Pada suhu dibawah 25 oC dan diatas 34 oC, udang tidak makan dengan baik. 2. Oksigen terlarut Pertahankan tingkat oksigen terlarut diatas 4 ppm. Bila kandungan oksigen terlarut berkurang menjadi dibawah 4 ppm, jumlah pakan harus dikurangi. 3. Penyakit Udang yang terinfeksi penyakit tidak akan makan dengan baik atau malah berhenti makan. 4. Pergantian kulit Pergantian kulit adalah proses biasa saat udang tumbuh. Bila pergantian kulit ini terjadi sacara massal, kurangi jumlah pakan sebesar 25 %. Setelah 2 - 3 hari kemudian, kembalikan ke jumlah pakan seperti semula. 5. Kematian plankton Kondisi kolam yang disebabkan tidak adanya plankton sangat membuat udang stress. Udang tidak makan bila air kolam jernih. 2.5.1. Bentuk Pakan Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (2010), bahwa bentuk dan ukuran pakan udang disesuaikan dengan tingkatan atau umur udang yang akan diberikan. Selain itu pakan yang akan diberikan kepada udang memiliki warna dan ukuran yang seragam, permukaan pakan atau pelet halus, tidak berjamur, kering tidak berbongkah atau basah. Berikut ini merupakan kebutuhan ukuran pakan untuk ukuran udang yang berbeda. Tabel 2. Ukuran Udang serta Diameter Pelet yang Direkomendasikan Ukuran Udang (gr) Diameter Pellet 0,002 – 0,02 400 – 600 µm 0,02 – 0,08 600 – 850 µm 0,08 – 0,25 850 – 1200 µm 0,25 – 1,0 1,2 – 1,8 mm 1,0 – 2,5 2,4 mm > 2,5 3,2 mm
Sumber: Van Wyk, 2006.

2.5.2. Dosis Pakan
Menurut Muhariyanto (2001), menyatakan bahwa takaran pakan yang diberikan kepada udang relatif akan berkurang sejalan dengan bertambah besarnya ukuran udang. Selama bulan pertama takaran awal yang diberikan ditetepkan sebanyak 1 kg per 100.000 ekor benur (PL 12 – 15) yang kemudian ditambah 200 – 300 gr tiap minggunya sesuai dengan perkiraan udang yang hidup (sintasan). Takaran awal pakan yang diberikan adalah 6,8 % dari berat badan/hari dan akan diturunkan secara bertahap sehingga pada saat udang ukuran panen (30 gr), jumlah pakan yang diberikan adalah antara 2,5 – 3 % dari berat badan/hari.

2.5.3. Cara Pemberian
Menurut Ghufran (2010), bahwa syarat terpenuhinya pemberian pakan yang baik adalah merata, yaitu diusahakan agar satu individu udang memperoleh bagian yang sama dengan individu yang lainya, sehingga diharapkan pertumbuhan udang budidaya akan seragam. Untuk itu pemberian pakan harus disesuaikan dengan sifat biologis udang. Cara pemberian pakan yang merata dapat menghindari terjadinya kompetisi dalam mendapatkan makanan. Apabila kompetisi dapat dihindari, maka sifat kanibalisme akan semakin dapat dikendalikan. Keadaan kompetitif akan semakin tajam dan mencolok apabila ukuran udang sangat bervariasi.

2.5.4. Frekuensi Pemberian
Umumnya frekuensi pemberian pakan udang dalam sistem budidaya sistem semi intensif dan intensif mencapai 4 – 6 kali sehari. Semakin sering pemberian pakan akan memberi peluang yang lebih besar kepada udang untuk makan setiap saat, sehingga kebutuhan pakan akan selalu terpenuhi. Frekuensi pemberian pakan yang lebih sering dengan jumlah pakan perharinya tetap, maka tiap kali pakan yang diberikan menjadi sedikit. Dengan cara ini pakan tidak tertumpuk pada suatu waktu saja tetapi merata sepanjang hari. Selain itu cara ini sangat menguntungkan karena dasar tambak akan terhindar dari proses pengotoran akibat pembusukan sisa pakan (Ghufran, 2010).

2.6. Pengelolaan Kualitas Air
Amri dan Iskandar (2008), menyatakan bahwa sebagai organisme hidup dan berkembang di dalam air, kelangsungan hidup udang vanname dari saat ditebar sampai dipanen sangat dipengaruhi oleh kualitas air tempat udang tersebut dibudidayakan. Itu sebabnya, untuk menghindari kegagalan dalam budidaya udang vanname, pengelolaan kualitas air secara baik dan benar menjadi prioritas utama.
Menurut Baliao dan Siri (2002), bahwa air yang akan ditebari udang harus mempunyai kualitas sifat fisika dan kimia sebagai berikut :
 Oksigen terlarut : > 4 ppm
 Ammonia : < 0,1 ppm  Salinitas : 25 - 30 ppt  pH : 7,5 - 8,5  Suhu : 28 - 32 OC  Alkalinitas : > 80 ppm
 Kecerahan : 35 - 45 cm
 Warna air : hijau kecoklatan
2.6.1. Pergantian Air
Pergantian air dilakukan bila telah terjadi penurunan parameter kualitas air tambak. Secara visual dapat dilihat dari perubahan warna air menjadi jernih dan terdapat suspensi dalam air akibat kematian plankton. Perubahan ini juga ditandai banyaknya buih relatif besar (lebih dari 2 cm) dan tidak pecah pada jarak 6 m dari kincir. Sedangkan indikasi kimiawi terlihat dari kandungan bahan organik yang tinggi (lebih dari 60 ppm) dan BOD yang lebih dari 10 ppm. Tanda-tanda penurunan kualitas air terlihat dari :

a. Nafsu makan menurun (sisa pakan di anco > 20 % dari normal).
b. Populasi total bakteri > 106 CFU/ ml.
c. Populasi Total Vibrio > 103 CFU/ ml.
d. Ekor udang banyak yang berwarna merah (red discoloration).
e. Banyak partikel plankton mati di kolom air.

Proses pergantian air dilakukan dengan cermat sehingga tidak terjadi perubahan kualitas air secara mendadak atau dratis terutama perubahan salinitas. Hal ini untuk mengurangi stress pada udang. Perubahan salinitas air tambak akibat pergantian air tidak boleh melebihi 3 ppt per hari. Untuk menghindari perubahan salinitas yang drastis pada saat terjadi hujan dengan cara menghidupkan kincir yang digunakan sebagai pengaduk (BBPBAP Jepara. 2007). 

2.6.2. Aplikasi Probiotik
Probiotik sebagai agen pengurai (bioremediation) merupakan kelompok mikroorganisme terpilih yang menguntungkan seperti Nitrosomonas, Cellumonas, Bacillus subtilis dan Nitrobacter. Dalam aplikasinya di dunia perikanan, probiotik sebagai agen pengurai dapat digunakan baik secara langsung dengan ditebarkan ke air atau melalui perantaraan makanan hidup (live food). Jadi melalui penambahan bakteri yang menguntungkan ke kolam atau bak pemeliharaan kualitas air dapat ditingkatkan. Menggunakan probiotik yang mengandung Bacillus sp. untuk tambak udang penaeid di Indonesia dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas air melalui dekomposisi materi organik, menyeimbangkan komunitas mikroba serta menekan pertumbuhan patogen sehingga menyediakan lingkungan yang lebih baik bagi kehidupan udang. Melalui penggunaan probiotik selama 160 hari pemeliharaan ternyata kehidupan udang lebih baik sehingga dapat diperoleh panen lebih tinggi, sedangkan tambak yang tanpa aplikasi probiotik Bacillus sp. mengalami kegagalan karena serangan Vibrio luminesence. Di samping mikroorganisme dari golongan bakteri, ternyata beberapa jenis mikroorganisme dari golongan yeast dan mikro algae juga dapat digunakan sebagai bahan probiotik dalam akuakultur (Wannasuria, 2010).
Menurut Amri dan Iskandar (2008), bahwa aplikasi probiotik dapat dilakukan melalui oral (dicampur pakan) dan lingkungan (air dan dasar tambak). Aplikasi probiotik melalui lingkungan bertujuan untuk memperbaiki kondisi lingkungan (menguraikan bahan organik, menyerap/menetralkan senyawa beracun seperti ammonia, nitrit, dan asam sulfida), menstabilkan plankton (menghasilkan senyawa anorganik yang diperlukan plankton) dan menekan bakteri yang merugikan.
Menurut Wannasuria (2010), bahwa peranan probiotik dalam budidaya akuakultur adalah :

1. Menekan populasi mikroba yang bersifat merugikan yang berada dalam saluran pencernaan dengan cara berkompetisi untuk menempati ruang (tempat menempel) dan kesempatan mendapatkan nutrisi,
2. Menghasilkan senyawa anti mikroba yang secara langsung akan menekan pertumbuhan mikroba pathogen dan mencegah terbentuknya kolonisasi mikroba merugikan dalam sistem pencernaan hewan inang.
3. Menghasilkan senyawa yang bersifat imunostimulan yaitu meningkatkan sistem imun ikan (hewan inang) dalam menghadapi serangan penyakit dengan cara meningkatkan kadar antibodi dan aktivitas makrofag, misalnya lipo polisakarida, glikan dan peptidoglikan. Mikroorganisme probiotik asam laktat yang diberikan secara oral pada hewan berdarah panas dapat memicu peningkatan resistensi terhadap infeksi enterik. Tetapi sampai saat ini masih belum jelas apakah bakteri yang digunakan sebagai probiotik dapat memberikan efek menguntungkan terhadap respon imun bagi hewan inang.
4. Menghasilkan senyawa vitamin yang bermanfaat bagi hewan inang (yang diberikan probiotik) dan secara tidak langsung akan menaikkan nilai nutrisi pakan.

2.7. Monitoring Pertumbuhan
Kegiatan monitoring pertumbuhan udang vannamei selama masa pemeliharaan dilakukan untuk mengetahui kesehatan udang, pertambahan berat harian (ADG), tingkat kelangsungan hidup atau survival Rate (SR), dan berat biomass. Pengamatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode anco. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (2010), bahwa pengamatan di anco dilakukan untuk melihat populasi dan kesehatan setiap saat, Ciri-ciri udang sehat adalah :
• Gerakan aktif, berenang normal dan melompat bila anco di angkat
• Respon positif terhadap arus, cahaya, bayangan dan sentuhan
• Tubuh bersih, licin, berwarna cerah, belang putih yang jelas
• Tubuh tidak keropos, anggota tubuh lengkap
• Kotoran tidak mengapung
• Ujung ekor tidak geripis
• Ekor dan kaki jalan tidak menguncup
• Insang jernih atau putih serta bersih
• Kondisi usus penuh, tidak terputus-putus Pencegahan Penyakit
Menurut BBPBAP Jepara (2011), bahwa sampling pertumbuhan dimaksudkan untuk memperoleh data tentang kondisi kesehatan udang, populasi, berat individu (gr), rerata pertumbuhan harian (gr), estimasi total biomass (kg), mengetahui variasi ukuran dan selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan perhitungan jumlah pakan/hari. Masing-masing dapat dihitung dengan rumus seperti berikut :
a. Mean Body Weight (MBW)
MBW = Berat udang + wadah – berat wadah
Jumlah Udang
b. Average Daily Growth (ADG)
ADG = MBWn - MBWo
t
c. Survival Rate (Sintasan)
Biomasa (kg) = Jumlah Tebar x SR x MBW
100
Populasi (ekor) = Biomasa x 1000
MBW
Sintasan (%) = Populasi x 100
Jumlah Tebar

2.8. Pengendalian Hama dan Penyakit
Menurut FAO (2006), bahwa beberapa macam hama yang mengganggu tambak udang, baik yang merupakan hama langsung maupun hama yang tidak langsung adalah :
1. Hama pengganggu
Kepiting, udang penggali (Thalassina), kerang-kerangan, jamur.
2. Hama penyaing
Bekicot, ikan, kepiting, udang.
3. Hama predator
Ikan, kepiting, burung, manusia, serangga, ular, berang-berang, kadal.
Jenis penyakit yang dapat menyerang pada udang, yaitu penyakit viral (penyakit yang disebabkan oleh virus) dan bakterial (penyakit yang disebabkan oleh bakteri) (BBPBAP, 2008).
1. Penyakit Viral, pada dekade terakhir penyakit viral telah mengakibatkan kerugian yang cukup besar di kalangan pengusaha. Penyebaran penyakit terjadi secara cepat dan melanda satu kawasan dalam waktu sangat singkat. Ada sekitar 5 jenis penyakit viral yang telah dideteksi yaitu IHHNV (Infectious Hypodermal and Hematopoitic Necrosis Virus), HPV (Hepatopancreatic Parvolike Virus), MBV (Monodon Baculavirus), SEMBV (Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculovirus), YHV (Yellow Head Virus). Tidak ada jenis antibiotik dan kemoterapi lain yang dapat digunakan untuk pengobatan penyakit viral. Pencegahan lebih efektif untuk pengendalian penyakit viral.
2. Penyakit Bakterial, beberapa jenis penyakit bakterial yang dijumpai menyerang udang di diantaranya adalah penyakit insang hitam, penyakit ekor geripis, kaki putus, bercak hitam, kulit dan otot hitam (black splincter disease). Bakteri Vibrio Sp. Seperti Vibrio Alginolyticus, V. Parahaemolyticus, dan V. Anguillanum merupakan bakteri yang erat kaitannya dengan penyakit tersebut. Peningkatan virulensi patogen diperkuat dengan jeleknya manajemen kualitas air, yang tidak jarang menimbulkan kematian udang.
Pencegahan adalah perlakuan yang baik dari pada melakukan pengendalian penyakit yang sudah menyerang udang. Adapun pencegahan yang dilakukan pada budidaya udang yaitu :
1. Pengelolaan awal media pembesaran udang Vannamei dengan baik dan terkontrol.
2. Menerapkan Biosecurity pada tambak.
3. Pemberian material agar kualitas media tetap terjaga.

2.9. Panen dan Pasca Panen
Menurut Amri dan Iskandar (2008), bahwa pemanenan dilaksanakan setelah udang mencapai umur lebih kurang 100 hari pemeliharaan ditambak, atau tergantung laju pertumbuhan udang. Apabila berat rata-rata (ABW) telah mencapai umur standart permintaan pasar (ukuran 60 – 80 atau 60 – 80 ekor/kg) maka panen dapat dilaksanakan walaupun masa pemeliharaan belum mencapai 100 hari. Berikut ini adalah beberapa alasan udang vannamei harus dipanen :
1. Udang sudah saatnya dipanen sehingga bila tetap dipertahankan, pertumbuhan udang tidak optimal lagi, bahkan tidak tumbuh lagi.
2. Udang terserang penyakit dan telah menunjukkan gejala kematian, jika terpaksa dipanen untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
3. Kondisi darurat yang mengharuskan udang dipanen.
Proses pemanenan dilaksanakan pada kondisi suhu rendah, atau dimulai dari malam sampai dini/pagi hari, untuk mencegah hal – hal yang tidak diinginkan, seperti buruknya kualitas udang akibat panas matahari langsung pada suhu tinggi (28 OC – 32,2 OC) kesegaran udang cepat menurun. Namun, jika penanganan dilakukan dengan benar, kesegaran udang dapat bertahan sampai lebih kurang 1 minggu. Oleh karena itu, penanganan udang hasil panen harus dipertahankan pada suhu rendah (0 OC – 5 OC) dengan cara menambahkan hancuran es (es curah) di setiap tahapan penanganan.
Menurut BPTP Sulawesi Selatan (2008), bahwa setelah pemanenan selesai, maka hasil panen harus ditangani secepatnya agar kualitas dan kesegaran udang atau ikan tetap baik hingga ke pasar atau konsumen.
Penanganan udang hasil panen harus dilakukan dengan cepat karena kualitas udang cepat menurun setelah dipanen. Keterlambatan dalam penanganan udang mengakibatkan udang tidak dapat diterima dipasaran sebagai komoditas ekspor. Cara penanganan udang adalah :
• Udang hasil panen disortir sesuai ukuran dan dipisahkan.
• Udang dibersihkan dan masukkan dalam keranjang plastik tersebut diletakkan pada tempat yang dialiri air.
• Udang dicuci dengan air es dengan cara mencelupkan keranjang berisi udang kedalam air es beberapa kali.
• Udang ditiriskan
• Untuk mempertahankan kesegaran udang, es batu yang digunakan dengan perbandingan 1 kg es untuk 1 kg udang.


DAFTAR PUSTAKA

Adiwidjaya D, dan Erik S. 2007. Aplikasi Pemberian Pakan Buatan Secara Optimal pada Budidaya Udang Windu Intensif Berkelanjutan. http://www.udang-bbbap.com/organisasi/1154-aplikasi-frekuensi-pemberian-pakan-buatan-secara-optimal-pada-budidaya-udang-windu-intensif-berkelanjutan

Alex w. 2009. Penaeus vannamei. http://www.sellingurchins.info/?p=165

Amri dan Iskandar. 2008. Budidaya Udang Vannamei. PT. Garamedia Pustaka Utama. Jakarta

Aquaculture Department Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC). 2005. Regional Technical Consultation on the Aquaculture of Penaeus vannamei and Other Exotic Shrimps in Southeast Asia. www.seafdec.org.ph/pdf/P_vannamei.pdf

Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. 2009. Budidaya Udang Windu. www.udang-bbbap.com

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. 2008. Budidaya Tambak Berwawasan Lingkungan. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=57046&idc=23

Baliao D, dan Siri T. 2002. Manajemen Budidaya Ramah Lingkungan di Daerah Mangrove. www.asianfisheriessociety.org

Briggs, M, Simon Funge-Smith, Rohana Subasinghe, dan Michael Phillips. 2004. Introductions and Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and The Pacific. FAO. Bangkok

Boone. 1931. Penaeus vannamei. http://www.fao.org/docrep/field/003/ab467e/AB467E04.htm

Buwono, Ibnu Dwi. 1993. Tambak Udang Windu Sistem Pengelolaan Berpola Intensif. Kanisius. Yogyakarta.
Clay, J dan Aaron A. McNevin. 2002. Farm Level Issues in Aquaculture Certification:Shrimp.www.worldwildlife.org/.../chap8ashrimpfarmlevelissues.pdf

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2010. Budidaya Udang Vanname. http://202.51.119.162/index.php?option=com_content&view=article&id=267:budidaya-udang-vaname&catid=117:berita&Itemid=126

DKP Provinsi Sulteng. 2009. Budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Teknologi Ekstensif Plus. DKP Provinsi Sulteng. Sulawesi Tengah

Eman. 2008. Vannamei. Universitas Kristen Petra http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/eman/2005/jiunkpe-ns-s1-2005-31401082-7936-vannamei-chapter1.pdf.

Ghufran, M. 2010. Pakan Udang: Nutrisi, Formulasi, Pembuatan, dan Pemberian. Akademia. Jakarta.

Haliman, R.W. dan D. Adijaya S. 2005. Udang Vannamei. Penebar Swadaya. Jakarta.

Harriet Perry. 2011. Litopenaeus vannamei . 2011. Litopenaeus vannamei. USGS Nonindigenous Aquatic Species Database, Gainesville, FL. USGS non pribumi Spesies Akuatik Database, Gainesville, FL.
http://nas.er.usgs.gov/queries/factsheet.aspx?SpeciesID=1212

Kongkeo H. 1997. Perbandingan Sistem Budidaya Udang Intensif di Indoneisa, Filipina,Taiwan dan Thailand. www.asianfisheriessociety.org/modules/wfdownloads/visit.php?cid=17

Kordi, Ghufron dan Tancung, Andi Baso. 2005. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta. Jakarta

Mustafa A. 2008. Disain, Tata Letak, dan Konstruksi Tambak. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/22076770.pdf

Nazir. 1988. Metode Penelitian. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia

Prihatman K. 2001. Saponin untuk Pembasmi Hama Udang. http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/3208166174.pdf

Ratnawati E. 2008. Budidaya Udang Windu (Panaeus monodon) Sistem Semi Intensif pada Tambak Tanah Sulfat Asam. http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/3108610.pdf

Rostamian H. 2007. Management Strategy for controlling disease. http:www.findep@gfpco.com

Subagyo. 1993. Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta.Rineka Cipta

Suparmoko. 1991. Metode Penelitian Praktis (untuk ilmu social dan ekonomi).Yogykarta.BBFE


Suryabrata. 1997. Metodologi Penelitian. Jakarta.Grafindo Persada

Taparhudee W. Dkk. 2007. Comparative Study on Paddle-wheel Aerators Using Electric Motors and Diesel Engines in Pacific White Shrimp (Litopenaeus vannamei) Culture Ponds. http://www.fisheryfocus.com/wp-content/uploads/2010/11/Comparative-Study-on-Paddle-wheel-Aerators-Using-Electric-Motors-and-Diesel-Engines-in-Pacific-White-Shrimp-Litopenaeus-vannamei-Culture-Ponds.pdf

Wahyudi, achmad. 2001. Suatu Pendekatan Teknis Menyiasati Air Pekat Di Tambak “Neraca Oksigen”. Kumpulan Majalah Mitra Bahari Edisi 1996 – 2002, edisi tahun IV nomor 2/1999.

William A. 2009. Liming Ponds for Aquaculture. www.ca.uky.edu/wkrec/Wurtspage.htm

Wyk, P.V. 2006. Chapter – 7 Nutrition and Feeding Litopenaeous vannamei in Intensive Culture System. www.icecubetopper.com/pdfs/docs/fl/FL_DA_shrimp_7.pdf

Wannasuria S. 2010. Probiotik Akuakultur. http://agritekno.com/probiotik/103-probiotik-akuakultur.html

_________.2011. Aclimatization. en.wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar